Industri properti diperkirakan paling parah terkena imbas krisis. Namun, para praktisi industri ini melihat masih ada peluang mendorong maju sektor ini.

Saat menghadiri pertemuan informal dengan sejumlah eksekutif perusahaan properti di Jakarta akhir November lalu, Edwyn Lim, dirut PT Modernland Realty Tbk., hanya tersenyum ketika mendengar sebagian besar peserta menyatakan bisnisnya terancam kolaps akibat krisis global. Menurut dia, sektor properti akan baik-baik saja, karena pasar properti Indonesia selama ini bertumpu pada pasar domestik dan tidak akan banyak terkoreksi akibat kondisi pasar global. ”Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, atau Hong Kong. Ketiganya selama ini mengandalkan pasar global untuk memacu pertumbuhan ekonomi, khususnya properti. Alhasil, ketika dunia mengalami krisis, mereka langsung kena dampaknya,” urai Edwyn.

Sebaliknya, lanjut Edwyn, industri properti Indonesia masih didominasi oleh pasar lokal. Orang asing belum boleh memiliki properti di Indonesia. Di sini, orang asing hanya bisa memiliki properti selama 25 tahun dengan perpanjangan maksimal hingga 75 tahun, sedangkan di negara lain, seperti Singapura, bisa mencapai 100 tahun.

Alasan Edwyn lainnya, kondisi makroekonomi saat ini jauh berbeda dibanding 1998. ”Dahulu, BI rate bisa mencapai 60%, sedangkan kini masih 9,5%. Dan, saat itu struktur permodalan industri properti juga masih amat bergantung pada utang perbankan,” ujar Edwyn. Jadi, membandingkan hal tersebut, Edwyn optimistis bisnisnya pada 2009 dapat tumbuh hingga 25%.

Agar bisa tumbuh sebesar itu, kata Edwyn, tahun ini perusahaannya akan mengembangkan town house eksklusif bertajuk Modern Hills di atas lahan seluas 8 hektar di kawasan Pondok Cabe, Jakarta Selatan. Di samping itu, mereka tetap melanjutkan pengembangan Kota Modern di Tangerang. ”Kami akan launching Modern Hills pada Januari 2009,” cetusnya.

Optimisme serupa juga dilontarkan Hiramsyah S. Thaib, presdir PT Bakrieland Development Tbk. Hiramsyah melihat krisis ini sebagai momentum bagi industri properti untuk menata diri agar lebih berkembang dan kompetitif. Krisis, ujar kolektor buku ini, akan menciptakan titik keseimbangan baru bagi pengembang. ”Lihatlah, pengembang dengan fundamental kuat dan strategi yang tepat akan bertahan, dan bahkan makin eksis, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga global,” paparnya. Namun, Hiramsyah tidak menampik akan adanya sejumlah proyek yang tertunda akibat kesulitan likuiditas.

Bakrieland sendiri belum memikirkan langkah untuk menunda proyeknya. ”Saya bisa pastikan, tahun 2009 semua proyek Bakrieland tidak akan mengalami penundaan,” tegas Hiramsyah, yang mematok pertumbuhan maksimal 30%. Di 2009, Bakrieland juga terus melanjutkan pembangunan superblok Rasuna Epicentrum di Jakarta, dan kawasan residensial Bogor Nirwana Residences (BNR) di Bogor. Bahkan, menurut Hiramsyah, pengembangan BNR akan diperluas hingga 5.000 hektar, dari rencana semula yang hanya 1.000 hektar.

Sikap optimistis juga dirasakan Teguh Satria, ketua DPP Real Estat Indonesia (REI). Menurut Teguh, secara rata-rata industri properti, khususnya residensial, akan tumbuh hingga 30%. Ini ditopang oleh meningkatnya subsidi pemerintah untuk perumahan rakyat dari Rp800 miliar pada 2008 menjadi Rp2,5 triliun pada 2009. Kenaikan berlipat ini akan menumbuhkan gairah besar di industri properti, terutama pada pasar residensial dengan harga di bawah Rp150 juta.

Jika diukur dari besaran subsidi yang diberikan pemerintah, apabila daya serapnya baik, sektor ini berpeluang mencatatkan transaksi Rp15 triliun, atau meningkat 150% dari target 2008 yang hanya Rp5 triliun. Sementara itu, pertumbuhan residensial untuk pasar menengah dengan harga hingga Rp1 miliar, diakui Teguh, akan cukup terpengaruh. Kian ketatnya penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) dan sikap menunggu konsumen menjadi alasan utama melambatnya penjualan properti segmen menengah. ”Hingga semester I, penjualan properti segmen menengah akan sedikit lambat,” jelasnya.

Konsumen masih akan menunggu beberapa sentimen positif, seperti Pemilu 2009, kembali turunnya BI rate, dan koreksi harga unit properti. Teguh memperkirakan, industri properti akan mulai bergairah pada akhir semester I-2009, seiring penurunan BI rate yang diprediksi akan menyentuh angka 7,5% dan kepastian hasil pemilu. Namun, Teguh memperkirakan pasar properti di atas harga Rp1 miliar belum akan terpengaruh krisis. “Pasar premium tidak akan terpengaruh, bahkan cenderung bergerak naik,” ujarnya. Sebagian besar segmen ini menjadikan properti sebagai instrumen investasi, setelah saham dan reksadana anjlok. “Mereka memandang properti sebagai produk investasi yang aman, tetapi tetap memiliki gain tinggi dibanding deposito,” kata Teguh.

Halaman 2 dari 2

Tantangan Likuiditas

Meski optimistis, industri properti tetap saja menghadapi tantangan berat dari sisi likuiditas. Ketatnya penyaluran KPR, tingginya bunga bank, serta kesulitan mendapatkan kredit konstruksi disikapi pengembang dengan berbagai cara. Modernland Realty, Agung Podomoro Group (APG), dan Wika Realty, misalnya, memberikan opsi tunai bertahap dengan durasi lebih lama hingga 48 kali serta subsidi bunga 5%–7% pada tahun pertama. Opsi tunai bertahap dipilih pengembang akibat kesulitan konsumen untuk memenuhi syarat perbankan, meski secara finansial mampu membeli properti.

Langkah lainnya ialah mengerjakan proyek bersama-sama pengembang lain. Apa yang dilakukan oleh APG bersama Jakarta Propertindo (Jakpro) dalam proyek apartemen The Thamrin Residences dan CBD Pluit adalah contohnya. Langkah serupa juga dilakukan Agung Sedayu Group dan APG di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, serta Bakrieland dan Jakpro di Pulo Gebang, Jakarta Timur. Menggarap proyek bersama pengembang lain, menurut Teguh, sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir guna menghindari ketergantungan terhadap utang perbankan. “Kerja sama tersebut untuk mengatasi kendala likuiditas,” tegas Teguh.

Namun, Teguh berharap pemerintah dan perbankan dapat melonggarkan penyaluran KPR-nya. “Sekitar 70% pembelian properti lewat KPR, sehingga kalau dilonggarkan akan sangat membantu pengembang,” harapnya. Sementara itu, Hiramsyah melihat ketatnya penyaluran kredit KPR maupun konstruksi sebagai cara perbankan melihat kredibilitas pengembang. Selama pengembang punya track record yang baik, maka perbankan diyakini masih akan mengucurkan kreditnya.

ISNO USNODO

Warta Ekonomi edisi 01/XXI/2009, halaman 46-47. Judul asli tulisan ini adalah “Bisnis Properti: Masih Bernapas karena Pasar Domestik”

Artikel Lainnya :

Pertumbuhan Investasi Properti

Strategi Untuk Merenovasi Properti

Pilih Lokasi Rumah Dulu, Baru Cari Rumahnya

Untung Ada Asuransi Properti

Unsur Penunjang Fengshui Rumah

Peluang Usaha dan Bisnis Properti Tanpa Modal

Beli Inden Melalui KPR Properti

Alternatif Investasi Yang Perlu Dikelola

Investasi Kios di Pusat Perbelanjaan

Related Posts by Categories



0 comments

Ads